KOMIKAZE

Index Haramjadah!

Selamat Pagi Jokja
Oleh: Beng Rahadian


Aku nggak tahu beberapa hari ini aku selalu menghabiskan sore after office hour dengan nongkrong di depan telaga yang nggak begitu luas ini, yang barangkali lebih cocok disebut kolam, karena selain banyak orang mancing ikan ditepi kolamnya juga diameternya nggak luas-luas banget. Lokasinya lumayan jauh juga sih dari studio tempat kerjaku, sekitar 2 km yang aku tempuh dengan jalan kaki, namun rindangnya taman di tepi kolamnya dan banyaknya cewek-cewek jogging ngelilingin kolam bikin aku betah berlama-lama di situ sambil nungguin maghrib.
Bosan, kayaknya itulah yang aku rasain akhir-akhir ini, kerja harian bikin jutek kepalaku, meskipun kerjaanku cuman duduk nggambar In Between untuk cell animation, tapi energi yang kepake untuk konsentrasi dalam tekanan deadline yang mencekik dan beberapa persoalan internal mismanajemen kantor bener-bener menghisap habis isi kepalaku, yang tersisa cuman keletihan dan kejenuhan yang menggila. Capek banget, hingga energi untuk baca buku pun udah ikut terkuras. Otakku harus segera istirahat, didepan hamparan air yang keemasan dari pantulan matahari sore ini, aku labuhkan semua isi kepalaku.
Aku baca lagi pesan-pesan sms dari Wahyu mantan ketua MKI (perode 97-01), ada 5 pesan di inbox yang semuanya berkisar tentang rencana penyelenggaraan event Pekan Komik Dan Animasi Nasional (PKAN) ke-empat di Jokjakarta. Memang mengejutkan buat aku pribadi, karena tumben-tumbenan PKAN dibikin di tempat selain Jakarta.
Jadi inget waktu kuliah dulu, tepatnya 3 Mei 1999, waktu itu aku ma Ones dan Nano ikut rombongan anak-anak jurusan Seni Kriya ke jakarta, karena aku dengar mereka mau menemui orang-orang di Depdiknas untuk urusan proposal pameran. Kami bertiga nyolong waktu buat ketemu pengurus PKAN, sekedar berbincang-bincang tentang kemungkinan penyelenggaraan PKAN di Jokja, yang masih kuingat waktu itu tercetus perkataan kalo PKAN nggak mungkin diselenggarakan di daerah karena persoalan teknis, sdm dan lokasinya yang nggak marketable, "Nah kalo mau.. anda-anda ini bikin aja acara komik sendiri diJokja". Ufh…

Tepat saat terdengar suara adzan aku segera pulang meninggalkan tepi kolam yang mulai sepi… kebetulan arah jalan menuju rumah sewa-ku melalui pom bensin, aku singgah untuk sholat maghrib dan kemudian singgah lagi di cc (cyber cafe) yang letaknya nggak jauh dari pom bensin. Males banget nih mo pulang.
Aku buka dua alamat email gratisan yang namanya sama namun beda portal, satu di hotmail untuk surat-surat pribadi dan satu lagi di yahoo khusus aku daftarin buat ngikutin beberapa milis. Di milis pengajian komik-dkv ada satu posting mail tentang acara PKAN di jokja dan diskusi tentang penggantian nama beberapa komikus Indonesia dengan nama yang beraroma jepang banget, serta surat sisa-sisa bahasan karya si Alpie terbaru: Dua Warna yang diterbitin M&C. Sementara di-inbox email pribadiku nggak ada berita baru kecuali surat mesra dari pacarku yang selalu mengakhirinya dengan pertanyaan klasik: Kapan pulang yank?
Di address list, aku liat ikon emailnya si Keke Bengkel Qomik menyala tanda lagi online, dan yahoo messengerpun segera kubuka. Sapaan dan perbincangan hangat berlangsung lumayan lama, dia emang banyak memberikan inspirasi buat komik kolom ku di majalah, hingga akhirnya nyinggung masalah event PKAN, emang nasib lagi bagus kebetulan keke sedang chatting juga ma Ipot anak MKI. Chatting ngelantur dari ngebahas event sampe ngebahas cewek.
Jam sembilan malam aku logout dan pulang, memasuki halaman parkir komplek rumah sewa-ku, aku ngeliat temen-temen sekantoran lagi pada nongkrong di warung minum, melihat antusiasme mereka dengan lambaian tangan aku kembali mampir, buka forum offline. Bagas dan Yusmiza, dua orang yang emang selalu ngabisin waktu after office hour di warung. Beberapa hal kami perbincangkan, dari mulai persoalan tender kerjaan, Cak Nur yang nggak jadi terus di Golkar, sampe acara PKAN Jokja. Beberapa kemungkinan tercetus sebagai ide untuk bisa datang nonton PKAN di antaranya adalah pengajuan cuti tahunan. Belum sampai setengah gelas teh tarik kuminum, satu pesan masuk dari Agung Komikaze, "Beng jadi pulang kan? kamu ikut divisi diskusi dan workshop PKAN aku koord.nya, acaranya tinggal 3 minggu lagi lho".

***

Aku masukan handphone ke saku celana, kini di hadapanku duduk Agung Komikaze dan John Weeks, salah satu peserta pameran PKAN 4 Jokja warga negara Amerika yang menetap di Kamboja sebagai guru dan komikus. Beberapa hal telah kami perbincangkan, ya meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, namun aku pikir pembicaraan kami tetep nyambung, Beberapa hari setelah acara PKAN 4 Jokja berlalu, di kafe Superman sosrowijayan jokja ini kami emang janjian buat ngobrol-ngobrol. John weeks memerlukan beberapa informasi untuk tulisannya di www.silverbulletcomicbooks.com, John Weeks yang menyatakan ketakjubannya pada scene komik di Indonesia, dari mulai kualitas penyelenggaraan acara, banyaknya keterlibatan studio berikut gayanya, diskusi antar komunitas dimana John Weeks menjadi pembicara pada sesi tema: "Merangkai Jaringan". Dan terutama pada acara evaluasi dan sharing panitia dan peserta di villa Indonesia Kaliurang.
Ketakjubannya bertambah lagi setelah beberapa hari pameran selesai, Aku nganterin dia mengunjungi Yayasan seni Cemeti dan Taring Padi, terlebih lagi di bilik marsinah Taring Padi ini, selain membuat interview, John weeks melihat bagaimana mereka secara kolektif sedang membuat karya grafis diatas kain dengan lebar papan cetak 2.5x1.5. Beberapa komik dan poster Taring Padi pun diborongnya, selain dia dapat kenang-kenangan merchandise lainnya.
Dalam perjalanan pulang ke losmen dari kunjungannya, John Weeks melihat banyaknya Mural di tepi jalan, dan karya-karya instalasi di pinggir jalan seperti rumah siput yang terbuat dari bambu di pinggir sawah di Kisaran, saat kami berdua mengunjungi rumah Eko Nugroho, presiden daging Tumbuh "Its exciting, so many visual arts here"
Ya, akupun jadi ingat waktu aku menunjukkan komik Daging Tumbuh kepada komikus profesional Malaysia: Aie di Kuala Lumpur setahun yang lalu, dia bilang "Komik Indonesia sudah maju dua langkah dari pada Malaysia punya".
Aku juga sebenernya nggak tahu pasti apa yang sebenarnya telah terjadi di sini, khususnya pada dunia komik Indonesia, PKAN yang baru saja lewat menyisakan banyak pertanyaan, sebagian besar peserta pameran datang dari kampus membawa karya Tugas Akhirnya, seperti kata Firmansyah Rachim orang yang paling banyak terlibat di belakang layar pada perkembangan MKI dan PKAN, ini baru pertama kalinya terjadi di PKAN, kampus-kampus ikutan pameran. Juga baru pertama kalinya pameran dihadiri peserta dari luar negeri…
Sebelum mengakhiri pertemuan dengan John, aku sempat menyampaikan sesuatu, Tell to your friend about what you saw here, in Indonesia.

Jogjakarta, 17 Sept 2003
Beng Rahadian
tehjahe@hotmail.com




Ke Halaman Muka 
Komik | Arsip |   Review | Komunitas

Situs ini dikembangkan oleh divisi online Komikaze