
cover
HARAMJADAH!
comic zine
edisi # 03 2002
KOMIK
By: Agung

Jakarta

ARiXX

(Prolog)
Kampung
Bawah Langit

Komikovela
ESSAI
Komik
Industri, Indie, Underground? Ah...Ngomik Aja Deh!
Agung 'A' Budiman |
JOGJA COMIC SCENE
Beng RahadianSaya berasumsi bahwa setiap kota memiliki atmosfer
berbeda yang membentuk lingkar wajah produksi komiknya. Saya langsung saja menganggap
bahwa kota-kota besar memiliki produksi komik, terlepas dari takar kuantitasnya (banyak
atau sedikit, reguler atau tidak) karena tulisan ini tidak mengarah pada akumulasi
dokumenter yang menghitung data. Tapi mengecil pada cerita tentang aktivitas ngomik di
sebuah wilayah 'kerajaan' yang berstatus propinsi, Jogja.
Pada awalnya
Yang saya tahu, tahun 95-an muncul Core Comic, yang kalau sekarang jenis seperti Core
Comic disebut oleh Sam Apotik Komik sebagai jenis komik partisipatoris, yang entah
maksudnya apa tapi kalo saya tangkap adalah sebuah komik ontologi, kompilasi yang
keanggotaan partisipannya tidak mengikat. Core Comic dikenal banyak orang setelah disebar
di Pasar Seni ITB '95, kemudian terpublikasi di media nasional (TEMPO) sebagai komik
underground (kalo saya menyebutnya dengan istilah indie). Sekedar bandingan, sebetulnya di
kota lain atmosfer komik menghangat sejak tahun 92, seperti Bandung dengan QN dan Jakarta
dengan Sektekomik-nya. Belakangan ini saya tahu kalau tahun 94, komik Bad Times Story-nya
nya Athonk, si Pure Black Tattoo sudah diproduksi dengan fotokopian di Jogja yang
distribusinya sampai ke USA, UK dan Australia. Namun bagaimanapun juga kemunculan Core
Comic lah yang menjadi pemicu lahirnya scene indie di Jogja, berhentinya produksi Core
Comic sampai edisi Anjing membuat beberapa partisipannya ber-evolusi kedalam bentuk baru,
seperti pameran komik dinding, komik haram, yang sekaligus terbentuknya Apotik Komik.
Barangkali latar belakang orang-orangnya dan iklim Jogja-lah yang membuat kita maklum
dalam menilai aktivitas komik-komiknya. Jika komik semenjak The Yellow Kids-nya Outcalt di
salurkan dalam gorong-gorong mass art, pop industrial, maka di Jogja komik dibikin cair
tak berbatas. Cairnya batas-batas inilah yang kadang seolah menjadi titik singgung dengan
orang-orang komik yang penginnya industri-atau komik yang cerita dan gambarnya mudah
dipahami sekaligus disukai semua orang.
Penggiat komik yang kebanyakan besar
dari lingkungan fine art terbiasa berekspresi bebas (individual) mengadopsi komik menjadi
bagian lahan kreatifnya dan pada akhirnya memberangus bakat mass art nya komik. Meski
sebenarnya Core Comic sendiri dulu ketika mulai digarap Sigit (sekarang aktif di Geber
Modus Operandi, multi media art performance) merujuk pada RAW-nya Spiegelman, dan
gerakannya Crumb. "Baiklah dengarkan aku, kalian orang-orang dungu, aku akan
menggambar apa saja yang aku mau dan jika kamu tidak menyukainya, apa peduliku",
setidaknya kalimat dari Crumb itulah yang menjadi perlindungan.
Sementara secara filosofis, mereka
menerbitkan komik cara indie dengan membuat lingkar dalam pembatas dari hegemoni persepsi
bahwa komik adalah seperti apa yang berderet di rak toko buku besar. Bias yang berbeda
dari rujukannya semula, karena seperti kita ketahui Robert Crumb menciptakan Mr. Natural
salah satunya adalah sebagai kritik ekstrem terhadap kelengahan kaum hippies dalam
kelenaan jargon make love not war, yang ternyata menjadikan mereka semakin apolitis dan
menarik diri dari permasalahan sosial.
Maka jenis Core Comic dan generasi
sesudahnya hanya merupakan kritik terhadap stigma keberhasilan sebuah komik adalah jika
sudah laku ditoko, pada saat itu mereka membuat komik untuk diri mereka sendiri.
Sehingga adopsi pada komik
sebenarnya hanya terjadi pada reproduksi dalam toleransi jumlah yang terbatas, tidak
berniat menjual sebanyak mungkin, dan adopsi pada sifat komik sebagai rangkaian gambar
yang bercerita dengan membebaskan diri dari karakter atau penokohan dan cara baca linear.
Penolakan terhadap konvensi komik umum ini sebetulnya telah sekaligus pula menolak
komunitas komik yang populis, karena segmen komik ini ternyata menyusut menjadi eksklusif.
Tapi memang sebagian besar dari mereka tidak mempedulikan booming penggemar, juga tidak
mempedulikan bagaimana langkah mereka mengoyak anggapan stagnasi komik Indonesia.
Sejenis komik partisipatoris yang
kini reguler penerbitannya adalah Daging Tumbuh (per enam bulan), terobosan terakhir komik
ini adalah mendekatkan terbitannya pada bentuk wadah murni, yang mau menampung apa saja
selama itu memungkinkan untuk reproduksi dan menjadikannya sebagai 'Seni Reproduksi', maka
ia pun berafiliasi dengan rekaman kaset experimental sound yang dijadikan sebagai
soundtrack, puisi dan essai. Hingga terbitannya yang keempat (Feb'02), Daging Tumbuh tidak
menjadi sebuah kelompok solid bahkan dapat disebut tidak beranggota. Eksistensi Daging
tumbuh adalah etos pengelolanya (president publisher), seorang Eko Nugroho yang mampu
menarik komik dari seniman kelas menengah sampai seniman puisi bis kota, etosnya pula lah
yang mendistribusikan Daging Tumbuh berkenalan dengan rantai komik di kota-kota lain
sampai Korea. Pada perkembangannya Daging Tumbuh memposisikan diri sebagai galeri ruang
kertas.
Fenomena Daging Tumbuh adalah
menyembulnya scene komik yang besar di Jogja, tanpa menafikan sembulan-sembulan lain yang
berlingkar wajah sama sekali lain. Karena scene Jogja pun punya gaya hero atau
lucu-lucuan. Jogja pun punya kelompok komik yang beranggota tetap. Namun jika kita
membicarakan scene, maka saya lebih cenderung memunculkan arus besar bukan kupasan
fenomenologis. Cuma memang kebanyakan semua nafasnya sama, seperti komik 'Matirasa' yang
sebetulnya mereka hanya memindahkan karya cukil grafis-nya secara teknis ke proses cetak
alternatif yaitu fotokopi. Beberapa diantara lainnya bisa disebut komikaze yang selain
membuat komik fotokopian, juga mengelola media komik online
(http://komikaze99.tripod.com), media fotokopian: Haramjadah comiczine (sudah 2 edisi),
dan di awal tahun 2002 ini sedang membangun sebuah perpustakaan komik, yang sekaligus
menjadi rumah data bagi perkembangan komik Indonesia era 90-an bersama jaringan pemerhati
komik di Jogjakarta. Komikaze mengawali komik fotokopiannya pada tahun 1998, yang disebar
ditengah arena demo mahasiswa penggulingan Soeharto (Bulaksumur UGM).
Jika ingin tahu komik linear-nya
Jogja bisa lihat karya Swacomsta, ( Pendekar Merapi) yang berjenis kelompok dengan anggota
tetap. Atau kelompok komik dengan anggota tetap lainnya yang spesifik ke tema kontemplatif
(relijius) yang mengeksplorasi drawing dan picture poetic yaitu: tehjahe, kelompok lainnya
bisa disebut: Mubal, Matirasa, Kamar Mayat, Komplikasi.
Ini masih terjadi di Jogja, jika
pameran komik indie sama ramainya dengan kunjungan orang ke toko buku, ini pun yang
terjadi jika anda melihat komik dalam sebuah diorama, seperti yang di buat Apotik Komik di
Awas Recent Art! Tahun 98 lalu. Adalah sebuah tong yang dibelah dua kemudian disusun
bertumpukan, bagian dalam yang sudah menjadi setengah silinder dijadikan ruang setting
komik, figur dan balon dialog terbuat dari kertas yang dibuat berdiri, hampir mirip wayang
kulit dengan layarnya.
Jogja tidak memiliki event rutin
komik, namun wacana-nya bergulir produktif karena secara sporadis aktivitas diskusi,
workshop dan terbitan-terbitan komik terkomunikasikan antar komunitas dari mulut ke mulut,
Jogja memang kecil.
Tradisi kerja seni
Patut diakui, jika citra komik jogja adalah Apotik Komik, (yang kini bubar) mendengar
istilah komik underground atau artcomics di Jogja, asosiasi kita langsung menunjuk Apotik
Komik. Setidaknya orang mengakuinya sebagai pionir. Perlu diketahui pula, jika Apotik
Komik tidak pernah secara langsung bergerak di tataran grassroot, event ke event dengan
komikus kota lain, karena Apotik Komik melakukan kegiatannya dalam rangka kerja seni.
Apotik Komik berkarya dengan pangsa yang esklusif, yaitu masyarakat seni, bukan masyarakat
komik. Dapat diamati bahwa tidak ada karya Apotik Komik yang berbentuk buku. Meskipun pada
akhirnya Apotik Komik memposisikan diri sebagai public art, yakni karya-karya nya dipajang
ditempat umum, seperti dinding, pinggir jalan, publik event (festival), sampai di ruang
yang sangat spesifik seperti Recent Art, misalnya, namun bukan berarti Apotik Komik
menjadi populis atau nge-pop, karena tetap saja terjadi jarak antara karya Apotik Komik
yang membawa nama 'komik' dengan pemahaman masyarakat atas karyanya. Masih segar dalam
ingatan saya, seorang seniman Jogja pernah bertanya pada Apotik Komik dalam forum
presentasi Recent Art di Benteng Vredeburg, bahwa tidakkah Apotik Komik sedang menjauhkan
arti komik dari pemahaman masyarakat selama ini (termasuk pemahaman si seniman itu juga).
Satu hal yang patut dicatat disini adalah sumbangan besar Apotik Komik terhadap referensi
sebuah idealisme, dan kehadirannya adalah spirit bagi komik independen yang pernah ada di
Jogja.
Begitupun dengan galeri ruang
kertasnya Daging Tumbuh, spirit idealisme yang dipertahankan dengan mengatasnamakan komik,
dipercaya mampu meneruskan tradisi indie di Jogja. Saya tidak sedang menarik ulur antara
kegiatan seni rupa murni dengan kegiatan pop nya komik secara umum, namun dari peta yang
ada Daging Tumbuh sementara ini mampu mewadahi keduanya. Untuk edisi keempat, yang terbit
bulan Februari sebanyak 250 buah langsung habis pada saat launching di bulan yang sama,
seungguhnya itu merupakan sebuah prestasi yang besar untuk sebuah karya komik independen.
Apakah memang masyarakat Jogja yang apresiatif terhadap komik, atau ini menjadi sebuah
bentuk euphoria karya seni kontemporer.
Yang dimaksud dengan tarik ulur
antara kerja seni dengan kerja populis dalam komik Daging Tumbuh ini adalah, pembeli komik
Daging Tumbuh bukanlah mereka yang menyenangi komik pop, namun mereka yang menyenangi
kebaruan dalam sebuah kerja seni. Indikasi ini bisa kita amati dari karakteristik pembeli
dan Daging Tumbuh sendiri yang menjadikan dirinya galeri untuk segala karya yang
memungkinkan direproduksi. Melihat Daging Tumbuh, layaknya menonton sebuah pameran. Spirit
inilah yang mentradisi dalam kerja seni komik di Jogja, seperti Apotik Komik, maka Daging
Tumbuh pun berkelit dari anggapan orang tentang komik yang umum. Apotik Komik cenderung
berkarya dalam tiga dimensi maka Daging Tumbuh untuk segala yang bisa direproduksi
(cetak-rekam) dan keduanya mengatas namakan komik.
Perbedaannya adalah Daging Tumbuh
tetap membasiskan kerjanya pada komik (rangkaian gambar, cerita dalam bentuk buku),
begitupun jalinan kerjanyapun berada dalam rantai jaringan komik lokal Indonesia.
Persemaian awal tahun
Perkembangan terakhir iklim industri mulai dihidupkan di Jogja, meski masih dalam
pendar-pendar cahaya kecil, entah berkaitan atau tidak, pengibaran bendera industri ini,
dibarengi pula dengan bubarnya Apotik Komik, saya kurang tahu apakah dengan serta merta
akan berpengaruh pada scene komik Jogja berikutnya.
Adalah Sebikom.corp (SEdang BIkin
KOMik) yang berbasis studio desain grafis Petakumpet dengan chief-nya: AF Ismail (veteran
juara lomba komik Depdiknas dan serial Alibaba-nya Mizan-Bandung) memulainya dengan
mengelola studio komik dengan cara industrial. Menyusul Swacomsta yang mulai bekerjasama
dengan salah satu penerbit, Adi Cita. Masuknya Adi Cita di Jogja saya kira akan
berpengaruh dalam beberapa tahun kedepan. Serial Si Pampil dari Swacomsta yang menjadi
pilot projek Adi Cita, dimana Si Pampil dapat terbit tanpa edit adalah indikasi baik untuk
iklim industri ini. Si Pampil adalah jenis komik populis, dengan ciri-ciri memiliki
karakter tokoh, cerita yang konstan-serial (seputar kisah lucu dari kehidupan seorang
vampir dengan setting lokal), naratif dengan gambar (kartun) yang mudah dipahami
(familiar). Sayangnya Si Pampil belum berkesempatan untuk launching, sehingga belum dapat
dipastikan animo masyarakatnya.
Sebikom, yang kini menangani komik
order dari UNTAET, selain memiliki semangat untuk memperjuangkan kesejajaran antara kerja
kreatif komikus dengan penerbit, juga sedang mencoba menyusun draft harga rata-rata untuk
setiap order komik di Jogja, dengan pemisahan job, yaitu naskah, skrip, sketsa, tinta,
digitalisasi, dimana masih akan terpisah lagi pada tingkat pendalaman, seperti survey
setting, detail gambar dll. Masuknya Adi Cita, tidak berarti menghilangkan kerja penerbit
Kanisius, yang telah pula menerbitkan komik-komik dalam jumlah banyak, namun Kanisius
tidak berada pada scene ngomiknya Jogja, karena lebih bersifat ideologis.
Rupanya semua elemen yang pernah,
sedang dan akan hadir di Jogja sepatutnya merubah scene yang sangat buruk adanya jika
dibiarkan stagnan, Scene komik Jogja kini sedang berubah. Komik Jogja yang dulu sepertinya
telah dijauhkan dari bentuk lahirnya, meredup dari cahaya pop-nya, kini dibiarkan menjadi
pecah belah dan menemukan semaian baru. Tak diperlukan argumen untuk itu.
Jogjakarta, 3 Februari 2002
Bambang Tri Rahadian/Beng Rahadian,
tehjahe@yahoo.com |