KOMIKAZE

Index - Komik - Koleksi - Bursa Komik -Arsip - Komunitas - Index Haramjadah!


cover100pix.gif (4165 bytes)
cover
HARAMJADAH!
comic zine
edisi # 03 2002


KOMIK

By: Agung

jakarta100pix.gif (4539 bytes)
Jakarta

arixx-skripsi.gif (3734 bytes)
ARiXX

bwhlangit100pix.gif (4771 bytes)
(Prolog)
Kampung Bawah Langit

komikovela100pix.gif (4325 bytes)
Komikovela

ESSAI
Komik Industri, Indie, Underground? Ah...Ngomik Aja Deh!

Agung 'A' Budiman

JOGJA COMIC SCENE
Beng Rahadian

Saya berasumsi bahwa setiap kota memiliki atmosfer berbeda yang membentuk lingkar wajah produksi komiknya. Saya langsung saja menganggap bahwa kota-kota besar memiliki produksi komik, terlepas dari takar kuantitasnya (banyak atau sedikit, reguler atau tidak) karena tulisan ini tidak mengarah pada akumulasi dokumenter yang menghitung data. Tapi mengecil pada cerita tentang aktivitas ngomik di sebuah wilayah 'kerajaan' yang berstatus propinsi, Jogja.

Pada awalnya
Yang saya tahu, tahun 95-an muncul Core Comic, yang kalau sekarang jenis seperti Core Comic disebut oleh Sam Apotik Komik sebagai jenis komik partisipatoris, yang entah maksudnya apa tapi kalo saya tangkap adalah sebuah komik ontologi, kompilasi yang keanggotaan partisipannya tidak mengikat. Core Comic dikenal banyak orang setelah disebar di Pasar Seni ITB '95, kemudian terpublikasi di media nasional (TEMPO) sebagai komik underground (kalo saya menyebutnya dengan istilah indie). Sekedar bandingan, sebetulnya di kota lain atmosfer komik menghangat sejak tahun 92, seperti Bandung dengan QN dan Jakarta dengan Sektekomik-nya. Belakangan ini saya tahu kalau tahun 94, komik Bad Times Story-nya nya Athonk, si Pure Black Tattoo sudah diproduksi dengan fotokopian di Jogja yang distribusinya sampai ke USA, UK dan Australia. Namun bagaimanapun juga kemunculan Core Comic lah yang menjadi pemicu lahirnya scene indie di Jogja, berhentinya produksi Core Comic sampai edisi Anjing membuat beberapa partisipannya ber-evolusi kedalam bentuk baru, seperti pameran komik dinding, komik haram, yang sekaligus terbentuknya Apotik Komik. Barangkali latar belakang orang-orangnya dan iklim Jogja-lah yang membuat kita maklum dalam menilai aktivitas komik-komiknya. Jika komik semenjak The Yellow Kids-nya Outcalt di salurkan dalam gorong-gorong mass art, pop industrial, maka di Jogja komik dibikin cair tak berbatas. Cairnya batas-batas inilah yang kadang seolah menjadi titik singgung dengan orang-orang komik yang penginnya industri-atau komik yang cerita dan gambarnya mudah dipahami sekaligus disukai semua orang.

Penggiat komik yang kebanyakan besar dari lingkungan fine art terbiasa berekspresi bebas (individual) mengadopsi komik menjadi bagian lahan kreatifnya dan pada akhirnya memberangus bakat mass art nya komik. Meski sebenarnya Core Comic sendiri dulu ketika mulai digarap Sigit (sekarang aktif di Geber Modus Operandi, multi media art performance) merujuk pada RAW-nya Spiegelman, dan gerakannya Crumb. "Baiklah dengarkan aku, kalian orang-orang dungu, aku akan menggambar apa saja yang aku mau dan jika kamu tidak menyukainya, apa peduliku", setidaknya kalimat dari Crumb itulah yang menjadi perlindungan.

Sementara secara filosofis, mereka menerbitkan komik cara indie dengan membuat lingkar dalam pembatas dari hegemoni persepsi bahwa komik adalah seperti apa yang berderet di rak toko buku besar. Bias yang berbeda dari rujukannya semula, karena seperti kita ketahui Robert Crumb menciptakan Mr. Natural salah satunya adalah sebagai kritik ekstrem terhadap kelengahan kaum hippies dalam kelenaan jargon make love not war, yang ternyata menjadikan mereka semakin apolitis dan menarik diri dari permasalahan sosial.

Maka jenis Core Comic dan generasi sesudahnya hanya merupakan kritik terhadap stigma keberhasilan sebuah komik adalah jika sudah laku ditoko, pada saat itu mereka membuat komik untuk diri mereka sendiri.

Sehingga adopsi pada komik sebenarnya hanya terjadi pada reproduksi dalam toleransi jumlah yang terbatas, tidak berniat menjual sebanyak mungkin, dan adopsi pada sifat komik sebagai rangkaian gambar yang bercerita dengan membebaskan diri dari karakter atau penokohan dan cara baca linear. Penolakan terhadap konvensi komik umum ini sebetulnya telah sekaligus pula menolak komunitas komik yang populis, karena segmen komik ini ternyata menyusut menjadi eksklusif. Tapi memang sebagian besar dari mereka tidak mempedulikan booming penggemar, juga tidak mempedulikan bagaimana langkah mereka mengoyak anggapan stagnasi komik Indonesia.

Sejenis komik partisipatoris yang kini reguler penerbitannya adalah Daging Tumbuh (per enam bulan), terobosan terakhir komik ini adalah mendekatkan terbitannya pada bentuk wadah murni, yang mau menampung apa saja selama itu memungkinkan untuk reproduksi dan menjadikannya sebagai 'Seni Reproduksi', maka ia pun berafiliasi dengan rekaman kaset experimental sound yang dijadikan sebagai soundtrack, puisi dan essai. Hingga terbitannya yang keempat (Feb'02), Daging Tumbuh tidak menjadi sebuah kelompok solid bahkan dapat disebut tidak beranggota. Eksistensi Daging tumbuh adalah etos pengelolanya (president publisher), seorang Eko Nugroho yang mampu menarik komik dari seniman kelas menengah sampai seniman puisi bis kota, etosnya pula lah yang mendistribusikan Daging Tumbuh berkenalan dengan rantai komik di kota-kota lain sampai Korea. Pada perkembangannya Daging Tumbuh memposisikan diri sebagai galeri ruang kertas.

Fenomena Daging Tumbuh adalah menyembulnya scene komik yang besar di Jogja, tanpa menafikan sembulan-sembulan lain yang berlingkar wajah sama sekali lain. Karena scene Jogja pun punya gaya hero atau lucu-lucuan. Jogja pun punya kelompok komik yang beranggota tetap. Namun jika kita membicarakan scene, maka saya lebih cenderung memunculkan arus besar bukan kupasan fenomenologis. Cuma memang kebanyakan semua nafasnya sama, seperti komik 'Matirasa' yang sebetulnya mereka hanya memindahkan karya cukil grafis-nya secara teknis ke proses cetak alternatif yaitu fotokopi. Beberapa diantara lainnya bisa disebut komikaze yang selain membuat komik fotokopian, juga mengelola media komik online (http://komikaze99.tripod.com), media fotokopian: Haramjadah comiczine (sudah 2 edisi), dan di awal tahun 2002 ini sedang membangun sebuah perpustakaan komik, yang sekaligus menjadi rumah data bagi perkembangan komik Indonesia era 90-an bersama jaringan pemerhati komik di Jogjakarta. Komikaze mengawali komik fotokopiannya pada tahun 1998, yang disebar ditengah arena demo mahasiswa penggulingan Soeharto (Bulaksumur UGM).

Jika ingin tahu komik linear-nya Jogja bisa lihat karya Swacomsta, ( Pendekar Merapi) yang berjenis kelompok dengan anggota tetap. Atau kelompok komik dengan anggota tetap lainnya yang spesifik ke tema kontemplatif (relijius) yang mengeksplorasi drawing dan picture poetic yaitu: tehjahe, kelompok lainnya bisa disebut: Mubal, Matirasa, Kamar Mayat, Komplikasi.

Ini masih terjadi di Jogja, jika pameran komik indie sama ramainya dengan kunjungan orang ke toko buku, ini pun yang terjadi jika anda melihat komik dalam sebuah diorama, seperti yang di buat Apotik Komik di Awas Recent Art! Tahun 98 lalu. Adalah sebuah tong yang dibelah dua kemudian disusun bertumpukan, bagian dalam yang sudah menjadi setengah silinder dijadikan ruang setting komik, figur dan balon dialog terbuat dari kertas yang dibuat berdiri, hampir mirip wayang kulit dengan layarnya.

Jogja tidak memiliki event rutin komik, namun wacana-nya bergulir produktif karena secara sporadis aktivitas diskusi, workshop dan terbitan-terbitan komik terkomunikasikan antar komunitas dari mulut ke mulut, Jogja memang kecil.

Tradisi kerja seni
Patut diakui, jika citra komik jogja adalah Apotik Komik, (yang kini bubar) mendengar istilah komik underground atau artcomics di Jogja, asosiasi kita langsung menunjuk Apotik Komik. Setidaknya orang mengakuinya sebagai pionir. Perlu diketahui pula, jika Apotik Komik tidak pernah secara langsung bergerak di tataran grassroot, event ke event dengan komikus kota lain, karena Apotik Komik melakukan kegiatannya dalam rangka kerja seni. Apotik Komik berkarya dengan pangsa yang esklusif, yaitu masyarakat seni, bukan masyarakat komik. Dapat diamati bahwa tidak ada karya Apotik Komik yang berbentuk buku. Meskipun pada akhirnya Apotik Komik memposisikan diri sebagai public art, yakni karya-karya nya dipajang ditempat umum, seperti dinding, pinggir jalan, publik event (festival), sampai di ruang yang sangat spesifik seperti Recent Art, misalnya, namun bukan berarti Apotik Komik menjadi populis atau nge-pop, karena tetap saja terjadi jarak antara karya Apotik Komik yang membawa nama 'komik' dengan pemahaman masyarakat atas karyanya. Masih segar dalam ingatan saya, seorang seniman Jogja pernah bertanya pada Apotik Komik dalam forum presentasi Recent Art di Benteng Vredeburg, bahwa tidakkah Apotik Komik sedang menjauhkan arti komik dari pemahaman masyarakat selama ini (termasuk pemahaman si seniman itu juga). Satu hal yang patut dicatat disini adalah sumbangan besar Apotik Komik terhadap referensi sebuah idealisme, dan kehadirannya adalah spirit bagi komik independen yang pernah ada di Jogja.

Begitupun dengan galeri ruang kertasnya Daging Tumbuh, spirit idealisme yang dipertahankan dengan mengatasnamakan komik, dipercaya mampu meneruskan tradisi indie di Jogja. Saya tidak sedang menarik ulur antara kegiatan seni rupa murni dengan kegiatan pop nya komik secara umum, namun dari peta yang ada Daging Tumbuh sementara ini mampu mewadahi keduanya. Untuk edisi keempat, yang terbit bulan Februari sebanyak 250 buah langsung habis pada saat launching di bulan yang sama, seungguhnya itu merupakan sebuah prestasi yang besar untuk sebuah karya komik independen. Apakah memang masyarakat Jogja yang apresiatif terhadap komik, atau ini menjadi sebuah bentuk euphoria karya seni kontemporer.

Yang dimaksud dengan tarik ulur antara kerja seni dengan kerja populis dalam komik Daging Tumbuh ini adalah, pembeli komik Daging Tumbuh bukanlah mereka yang menyenangi komik pop, namun mereka yang menyenangi kebaruan dalam sebuah kerja seni. Indikasi ini bisa kita amati dari karakteristik pembeli dan Daging Tumbuh sendiri yang menjadikan dirinya galeri untuk segala karya yang memungkinkan direproduksi. Melihat Daging Tumbuh, layaknya menonton sebuah pameran. Spirit inilah yang mentradisi dalam kerja seni komik di Jogja, seperti Apotik Komik, maka Daging Tumbuh pun berkelit dari anggapan orang tentang komik yang umum. Apotik Komik cenderung berkarya dalam tiga dimensi maka Daging Tumbuh untuk segala yang bisa direproduksi (cetak-rekam) dan keduanya mengatas namakan komik.

Perbedaannya adalah Daging Tumbuh tetap membasiskan kerjanya pada komik (rangkaian gambar, cerita dalam bentuk buku), begitupun jalinan kerjanyapun berada dalam rantai jaringan komik lokal Indonesia.

Persemaian awal tahun
Perkembangan terakhir iklim industri mulai dihidupkan di Jogja, meski masih dalam pendar-pendar cahaya kecil, entah berkaitan atau tidak, pengibaran bendera industri ini, dibarengi pula dengan bubarnya Apotik Komik, saya kurang tahu apakah dengan serta merta akan berpengaruh pada scene komik Jogja berikutnya.

Adalah Sebikom.corp (SEdang BIkin KOMik) yang berbasis studio desain grafis Petakumpet dengan chief-nya: AF Ismail (veteran juara lomba komik Depdiknas dan serial Alibaba-nya Mizan-Bandung) memulainya dengan mengelola studio komik dengan cara industrial. Menyusul Swacomsta yang mulai bekerjasama dengan salah satu penerbit, Adi Cita. Masuknya Adi Cita di Jogja saya kira akan berpengaruh dalam beberapa tahun kedepan. Serial Si Pampil dari Swacomsta yang menjadi pilot projek Adi Cita, dimana Si Pampil dapat terbit tanpa edit adalah indikasi baik untuk iklim industri ini. Si Pampil adalah jenis komik populis, dengan ciri-ciri memiliki karakter tokoh, cerita yang konstan-serial (seputar kisah lucu dari kehidupan seorang vampir dengan setting lokal), naratif dengan gambar (kartun) yang mudah dipahami (familiar). Sayangnya Si Pampil belum berkesempatan untuk launching, sehingga belum dapat dipastikan animo masyarakatnya.

Sebikom, yang kini menangani komik order dari UNTAET, selain memiliki semangat untuk memperjuangkan kesejajaran antara kerja kreatif komikus dengan penerbit, juga sedang mencoba menyusun draft harga rata-rata untuk setiap order komik di Jogja, dengan pemisahan job, yaitu naskah, skrip, sketsa, tinta, digitalisasi, dimana masih akan terpisah lagi pada tingkat pendalaman, seperti survey setting, detail gambar dll. Masuknya Adi Cita, tidak berarti menghilangkan kerja penerbit Kanisius, yang telah pula menerbitkan komik-komik dalam jumlah banyak, namun Kanisius tidak berada pada scene ngomiknya Jogja, karena lebih bersifat ideologis.

Rupanya semua elemen yang pernah, sedang dan akan hadir di Jogja sepatutnya merubah scene yang sangat buruk adanya jika dibiarkan stagnan, Scene komik Jogja kini sedang berubah. Komik Jogja yang dulu sepertinya telah dijauhkan dari bentuk lahirnya, meredup dari cahaya pop-nya, kini dibiarkan menjadi pecah belah dan menemukan semaian baru. Tak diperlukan argumen untuk itu.

 
Jogjakarta, 3 Februari 2002
Bambang Tri Rahadian/Beng Rahadian,
tehjahe@yahoo.com




Ke Halaman Muka 
Komik | Arsip | Bursa Komik | Koleksi | Komunitas

Situs ini dikembangkan oleh divisi online Komikaze