Masyarakat dalam Komik, Komik dalam Masyarakat: Beberapa Catatan*
Oleh : Sisdaryono
*Disampaikan dalam dialog Masyarakat dalam Komik, Galeri Konblok, Bulaksumur
B-21 Yogyakarta, Kamis, 20 Mei 1999
Malaikat telah membuat pesta dalam mulutku semalam.
Sebuah pelukan seratus tahun yang datang dari hutan-hutan
Purba. Bulan Juni yang penuh kata. Ayah dan Ibu bermain
dalam kipas angin. Hingga jam 7 pagi tanganku memasuki
semesta. Dan matahari datang. Matahari jam 7 pagi yang
membuka jendela. Malaikat sedang menyusun demonstrasi
besok pagi, di lapangan basket. Menempatkan kembali rakyat
dalam suaranya sendiri, keluar dari kuburan politik 30 tahun
yang bangsat. Hari akan lebih panjang lagi, kasihku, di bulan
Juni. Bulan Juni dari jam 7 pagi. Kompor telah dinyalakan,
Berita-berita dalam bahasa Inggris, dan majalah Review
Menulis: Indonesias May Revolution. Tentara seperti topi besi
Dalam lukisan hijau keras, seperti gergaji yang masih
Menunggu di sana. Bahasa yang dicekik dalam kuburan politik
30 tahun yang bangsat.
Bau pagi masih menyusun rambutmu, pagi dari bulan Juni yang
Berjingkat tanpa sendal. Hi, banyak sekali yang telah diciptakan
Pagi ini. Sungai yang mengalir, membawa jiwa-jiwa dari
Kuburan politik 30 tahun yang bangsat. Malaikat membuat
Pesta dalam mulutku semalam, hingga jam 7 pagi. Jam 7 pagi
Di bulan Juni. Pembunuh bahasa masih melarikan diri ke dalam
Istana. Dan matahari datang
.
(Afrizal Malna, Bulan Juni jam 7 Pagi, 1998)
Pengantar dalam sepotong puisi di atas, setidaknya meyisakan sebuah pertanyaan: Apa dan
bagaimana yang akan kita lakukan pada tanggal 7 Juni 1999 pagi mendatang, setelah kita
mendapati suara rakyat, atau bahasa, atau jiwa-jiwa yang dicekik dalam kuburan politik 30
tahun yang bangsat? Akankah malaikat membuat pesta dalam mulutku semalam? Sehingga
matahari datang menyambut tindakan kita keesokan paginya
.?
Tidak bisa dipungkiri bahwa 7 Juni 1999 mendatang, merupakan peristiwa krusial atau
tragedi lanjutan yang akan dialami oleh bangsa ini. Namun jangan lupa, bahwa ada satu hal
yang tidak kalah penting, yaitu: usaha menempatkan kembali rakyat dalam suaranya sendiri!
Wacana Sosiologis Saat Ini
Tesis kolonialisasi dunia kehidupan, yang dikembangkan dalam kaitannya dengan teori Max
Weber mengenai rasionalisasi masyarakat, salah satunya memunculkan dialektika berupa
kecenderungan dan kecenderungan tandingan, gejala dan gejala tandingan. Yang berakibat
lebih lanjut menimbulkan potensi protes, yang akhirnya memunculkan bentuk konflik lainnya.
Konflik baru ini lebih banyak timbul di bidang reproduksi, integrasi sosial, dan
sosialisasi. Jenis konflik baru ini merupakan pencerminan revolusi diam
tertentu, yang dilihat oleh R. Inglehart (1979) pada perubahan nilai dan sikap publik.
Lebih lanjut, penelitian Hilderbrandt, Dalton (1977), kemudian Barnes dan Kaase (1979)
menguatkan perubahan tema dari politik lama yang menyangkut masalah keamanan
ekonomi dan sosial, dalam negeri dan militer, menjadi suatu politik baru. Yang
baru berupa masalah kualitas kehidupan, persamaan hak, aktualisasi diri, partisipasi, dan
hak asasi manusia. Munculnya gejala-gejala ini (gejala dan gejala tandingan) cocok dengan
tesis kolonialisasi kehidupan batin, lebih khususnya masuk dalam represi ruang kepribadian
dan represi ruang pemikiran.
Dalam konteks Indonesia, publik bawah yang powerless selalu menjadi objek pembangunan.
Dengan sistem atau kekuasaan yang mengedepankan stabilitas keamanan ekonomi dan sosial,
dalam negeri, serta memanfaatkan militer sebagai alat yang begitu represif, kesemuanya
untuk melanggengkan kekuasaan, benar-benar telah menenggelamkan batas kepribadian dan
pemikiran publik ke dalam suatu penyeragaman yang tumpul. Bodoh! Sehingga begitu cepat
terjadi perubahan nilai dan sikap publik.
Begitu banyak realitas kehidupan kesenian budaya publik, digiring melalui proses
penyeragaman, hinggahasilnya sirna, seakan tak berbekas. Kemudian, ketika rezim of
dificult (kekuasaan Soeharto) runtuh, hancur pula sistem pembodohan yang begitu dahsyat
tersebut. Kotak pandora telah terbuka. Hal ini lantas memunculkan berbagai kecenderungan
atau gejala secara dialektis, berupa kecenderungan dan kecenderungan tandingan, gejala dan
gejala tandingan. Kolonialisasi yang dilakukan oleh rezim, telah banyak berkurang. Namun
sebenarnya, dari berbagai dinamika dialektis yang terjadi, masih menampakkan sisanya,
yaitu kolonialisasi dunia kehidupan batin, khususnya dalam hal kepribadian dan pemikiran.
Bagaimanakah kita membebaskan dir dari kolonialisasi dunia kehidupan batin tersebut,
khususnya melalui salah satu media ekspresi: komik?
Komik dalam Wacana Pembebasan
Di awal 1990-an, Indonesia dibanjiri oleh komik-komik Jepang. Peristiwa ini terjadi lama,
setelah Godam dan Gundala menyusut drastis kedigdayaannya, di tahun 1970-an. Barangkali
Awang, seorang sopir berwajah buruk, telah kehilangan cincin saktinya. Dan barangkali
juga, seorang insinyur (yang sudah tak muda lagi), Sancaka, masih kesulitan mencari
leontin kalung pemberian Cronz.
Bagaimanakah dengan sahabat-sahabat Godam dan Gundala? Apakah Maza telah tersesat kedalam
hutan, sebagaimana ia keluhkan kepada Godam: Kurang Asem! Mereka telah memerankan
aku sebagai Tarzan! Sendirian di tengah hutan ditemani seekor binatang!. Ataukah ia
telah kembali dalam kehidupan sehari-hari, sebagai Kanigara, seorang pelukis, yang telah
kesulitan untuk membeli kuas? Demikian halnya dengan Pangeran Mlaar, apakah ia telah
kembali ke Covox? Bagaimana pula halnya dengan Sembrani, Aquanus, Tira, dan Sun GoKong?
Namun, barangkali pula kita tidak perlu khawatir . Toh, di sela-sela hiruk-pikuk
komik-komik Jepang, mulai pertengahan 1990-an, telah muncul berbagai macam komunitas
komikus, terutama di Yogya: Core Comic (CC), Petak Umpet, Bedebah, Kirikomik, Apotik
Komik, dan Taring Padi (Mulai berdiri akhir 1998); Bandung: Qomik Nasional (QN), Studio
MAJIK, MOLOTOV-indie komik, Bajing Loncat (BALON), dan Komik Hijau; menyusul kemudian di
akhir 1990-an, di Jakarta: Komik Karpet Biru (KKB), Basis Komik (Baskom), Komik Hitam
Putih, dan Pedestrian; serta Surabaya.
Merebaknya komunitas komikus ini, diiringi pula dengan berdirinya Masyarakat Komik
Indonesia (MKI)dan Kajian Komik Amerika (KKA), keduanya di Jakarta. Setidaknya, melalui
MKI, telah terselenggara Pekan Komik Nasional (PKN) di Stasiun Gambir (1997),di Sastra
Universitas Indonesia, Depok (April 1999), serta Agustus 1999 di ITB, Bandung.
Mencermati karya-karya komik yang dihasilkan dari berbagai komunitas tersebut, dapat saya
pilah ke dalam dua kecenderungan atau gejala. Yang pertama, komik ditampilkan secara
estetis, dan kedua, komik ditampilkan sebagai cerminan ideologis.
Pada gejala yang pertama, beberapa komunitas komikus memiliki kecenderungan berangkat dari
permasalahan semangat. Semangat untuk menghidupkan komik Indonesia, hingga akhirnya
mencoba melakukan perlawanan terhadap rezim industri, yang notabene merupakan perpanjangan
tangan dari dominasi komik-komik impor. Pada gejala yang kedua, sebagian komunitas
memiliki kecenderungan berangkat dari semangat membangun kesadaran publik.
Gejala pertama dapat diwakili dan diawali oleh munculnya Caroq dan Kapten Bandung
(keduanya produksi QN). Super hero dengan berbagai predikat ke-Indonesia-an, seperti yang
pernah disajikan dalam tulisan saya di: Komik Impor Sukses dalam Estetika Resepsi
(Kedaulatan Rakyat, 11 Agustus 1996) dan Komik Belum Mampu Jadi Industri Massa (KR, 18
Agustus 1996) ditampilkan secara mainstream dan full color, seperti halnya super herp
Amerika atau Eropa, yang berarti lebih mengedepankan estetik, serta mencoba membangun alur
cerita yang terjaga. Sukses peluncuran keduanya, menyebabkan QN bergandengan tangan dengan
salah satu biro iklan di Jakarta, Inspirasio. Kedua lembaga ini bersepakat untuk membangun
dunia komik secara industri, sebagaimana halnya Marvel dan DC Comic di Amerika.
Namun ternyata sebelum melanjutkan petualangan Caroq dan Kapten Bandung, ataupun
melahirkan super hero baru, kerja sama ini hancur, karena manajemen yang tidak solid.
Kehancuran dari dalam ini, setidaknya turut menyumbangkan peran yang semakin kuat kepada
rezim industri selama ini.
Sementara gejala yang kedua dapat diwakili oleh Core Comic, yang mulai tahun 1995 rajin
menampilkan kompilasi karya komik secara tematik. Antara lain: Paint It Black, Komik Game
(yang sempat tersebar secara meluas ke luar Yogya), Komik Anjing, Komik Haram, Komik
Kuman, dan Komik Selingkuh. Karya komik yang ditampilkan mencoba menentang (dan sukses)
komik mainstream secara estetik, dan lebih mengedepankan tokoh utama berupa publik (atau
makhluk lain), sebagai individu-individu yang seharusnya memiliki hak untuk berpikir,
bersuara, dan mengembangkan pribadinya. Komik-komik ini diposisikan, untuk tidak
berhadap-hadapan melawan industri komik.
Ciri-ciri tersebut menyebabkan karya mereka disebut underground comic atau bahkan art
comic. Hal ini seakan mengharuskan mereka memiliki resistensi dan daya gerilya yang
tinggi.
Selanjutnya, dalam PKN ke-3, April 1999 yang lalu, begitu banyak karya komik yang
didistribusikan secara underground (tidak melalui jaringan penerbit mapan) dan mereka
sudah tidak menabukan penggandaan lewat teknik fotokopi. Namun jika ditilik secara
keseluruhan, karya komik ini benar-benar identik dengan komik Jepang. Dari sampulnya pun,
awam sudah dapat mengatakan mirip komik Jepang.
Adapun cerita yang diangkat meliputi kehidupan keseharian anak muda metropolitan, seperti:
Suod, Diar, Petualangan Anak Senang, Miskun Gankster Panutant (kesemuanya produksi
KKB), dan Insomnia Epilepsy (karya Dani IKJ). Atau komik reformasi, seperti: Tanpa Judul
karya QN dalam Zenit.
Cerita lainnya mencoba mengangkat science fiction, seperti: Agen Polisi Antariksa Simbion
dan Biru dalam proyek Zenit, kerja bareng antara komikus Bandung dengan Jakarta. Namun ada
pula yang merupakan epigon murni komik Jepang, meski kadang disisipkan latar belakang
Indonesia, seperti: Wawanen (produksi KKB), Auraks, Aliran Tao Mongol, Rush Minutes, dan
The Second Floor (kesemuanya produksi Baskom), serta Kekejaman Tak Selalu Membunuh (karya
Alfi, IKJ).
Sementara dalam komik underground, contohnya: Ruffo karya Arie dalam kompilasi Komik
Anjing, produksi CC, 1996, terdapat ungkapan: Kalian seharusnya malu opsir! Seekor
anjing saja tahu arti sebuah demokrasi. Dan ia rela berjuang untuk itu. Komik ini
seakan ingin mengatakan bahwa seekor anjingpun (yang biasanya kita jadikan kata-kata
makian) ternyata lebih tahu arti sebuah demokrasi daripada seorang manusia.
Dalam Komik Haram, produksi CC, 1996, terdapat pesan: Confused, antara Noram-norma
yang dulu tertanam di kepala sekarang pelan-pelan pindah ke dengkulnya. Yang
sebenarnya ingin dikatakan di sini adalah betapa dahsyatnya represi yang dilakukan rezim
of difficult, yang akhirnya oelah Pramoedya Ananta Toer dikatakan, menghasilkan budaya
Indonesia sekarang ini tanpa bentuk: Tidak karuan, tidak jelas misinya. Hanya
bersifat hiburan, hanya untuk cari duit. Juga terdapat dalam Komik Paint It Black,
produksi CC, 1995, yang mengungkapkan: Seluruh kota dicekam ketakutan karena tim ini
bekerja dengan sangat cepat KUNING
.KUNING
.dimana
mana.
Dari berbagai contoh yang telah saya sebutkan tadi, kita langsung dapat memilah. Mana saja
komik yang lebih mengedepankan wacana estetik, serta mana saja komik yang lebih
mengedepankan wacana ideologis. Akankah komik kemudian dihadapkan pada dilema, antara
kepentingan estetik dengan kepentingan ideologis? Antara dapat diterima atau tidak oleh
publik pembacanya? Meski kedua wacana ini, masing-masing memiliki tujuan yang sama tapi
juga berbeda. Namun tidak menutup kemungkinan antara keduanya terjadi pula perseteruan
sengit . Biarkan mereka masing-masing bercengkerama dalam sebuah dialektika, termasuk
dialektika dengan rezim industri atau tindakan represi kepribadian dan represi pemikiran
yang masih terus menjejakkan kakinya di kehidupan batin kita hingga saat ini.
Produksi komik Indoneisa di kurun 1990-an di atas, sepertinya mewakili kondisi masyarakat
kita dewasa ini. Begitu banyak masyarakat mangalami kebingungan untuk bersikap, untuk
bertindak, berinisiatif, berproses kreatif, masih tergagap-gagap akan budaya luar yang
terus membanjiri kita, semetara budaya publik kita makin terancam kepunahan. Revolusi
sosialyang tadinya diam, setelah mengalami kejatuhan rezim of difficult,
sebenarnya telah menjadi revolusi sosial yang terbuka. Namun kita belum menyadari
semuannya.
Akankah komik menjadi media seni penyadaran, mendudukkan publik sebagai subyek? Akankah
melalui komik, dapat menawarkan kembali publik agar menguasai media kebudayaan apapun
miliknya, agar menjadi media ekspresi, dialog, dan aspirasi yang kesemuannya menuju pada
pembebasan diri publik? Adalah menjadi tugas kita semua untuk mewujudkannya, seperti
dikatakan Albert Camus: Kebebasan tidak akan ada begitu saja, tapi harus direbut.
Ke Halaman Muka |