|
(tehjahe@yahoo.com) English Version Sebelum mengupas istilah independen, maka saya akan memagari permasalahan istilah independen atau indie ini dengan asumsi bahwa independen adalah pemerdekaan. Dalam wacana komik di Indonesia pemerdekaan dapat berarti dua, yaitu merdeka dalam gagasan dan merdeka dalam produksi-distribusi. Merdeka dalam gagasan adalah proses kreatif dalam pembuatan komik steril dari intervensi diluar kreatornya. Sedangkan merdeka dalam distribusi adalah menyangkut distribusi yang lepas dari perjanjian kontrak penjualan. Maraknya kemunculan studio-studio komik yang didominasi oleh generasi muda pada fase peralihan abad ini merupakan sebuah indikasi akan kebangkitan kedua dunia komik Indonesia. Tidak berbeda dengan masa tahun 1950-an, kebangkitan ini membawa naluri tanding melawan derasnya komik impor dan semangat indiginasi budaya lokal. Namun hal yang menarik disini adalah saat konteks budaya yang sudah berubah. Perubahan itu bisa kita lihat dalam cermin komik Indonesia era 90-an ini dimana komik Indonesia tidak hanya menghadapi komik imporan, tapi juga menghadapi realitas industrialisasi, modernitas. Industrialisasi menjadi jalan hidup, bahkan dalam komik. Sebutlah pada tahun 1992-an, di Bandung muncul Animiic dan QN yang mempropagandakan komik industri. Sebagai industri orientasi profit adalah prioritas utama, maka langkah pertama membuat komik adalah mencari pasar sebagai pembeii, dan pasar komik Indonesia yang ditemukan adalah pembeli yang sedang mabuk komik impor, jadilah pembeli yang sudah mabuk itu ditawari suguhan komik dengan sajian yang hampir sama. Strategi mendekati pasar seperti dilakukan Animik dan QN menjebak mereka pada situasi tahun 1940-an. Dimana mainstream pada saat itu adalah komik imporan Amerika, walhasil komik Indonesia seperti Sri Asih, Kapten Bintang 8 Garuda Putih, Kapten Komet dihujat karena memiliki kemiripan bentuk dengan komik Amerika dan yang paling utama adalah ketakutan pada gagasan (budaya yang dibawa). Akhirnya nasib Caroq (QN) dan Si Jail (Animik) hanya mengulang kegagalan yang sama, yang membedakannya adalah proses pada pola adaptasinya saja1. Industri dalam komik, selain mengejar pasar juga memperhitungkan kontinyuitas produk, komik adalah barang dagangan yang harus dapat dijual terus- menerus dengan kualitas yang tetap terjaga. Tokohnya yang terus dihidupkan hingga tidak hanya berlaga dalam adegan sebuah komik, tapi juga dalam baju tidur, pin, topi, kaos, poster dll yang sekiranya memungkinkan2. Untuk menciptakan semua itu, maka diperlukan sebuah tim gabungan (jaringan) dari spesifikasi-spesifikasi yang menangani riset, kreatif dan pemasaran. Dalam sebuah tim kreatif misalkan, akan dibagi pula berdasarkan spesifikasi bidang kerja seperti penulis, pensiler, peninta, pewarna. Cara Industri ini akan bertemu lagi dengan instrumen industri lain seperti penerbit. Penerbitan sebagai bidang usaha, yang akan menyusun pula perhitungan- perhitungan untung rugi dengan sistem royalti, pembelian hak cipta atau kontrak jumlah produksi pertahun. Di Indonesia keterlibatan penerbit pada proses kreatif komikus sangat dominan, jangan kata studio komik yang menerapkan sistem industri, seorang komikus profesional pun mudah sekali diobrak-abrik otoritas estetiknya, seperti seorang Hans Jaladara misalnya. Hal inipun terjadi di Amerika dalam nuansa yang lain dan memang pola industri kita mengadaptasi sistem industri di Amerika3. Kerumitan cara industri ini tidak menjadi beban bagi sebagian kreator komik, kalau maunya begitu, ngikut aja mau apa lagi. Kita bisa melihat banyak contoh kreator komik yang bekerja sama pada Mizan atau Gramedia4. Namun pada sebagian lain hal ini merupakan kesulitan, yang akhirnya memilih untuk bekerja secara mandiri. Dan sebagian lagi tidak pernah mempedulikan sama sekali tentang segala tetek bengek sistem industri. Sehingga dalam beberapa hal para kreator komik muda ini tidak menggantungkan diri pada sistem yang ada (industri), tapi lebih cenderung membentuk sistemnya sendiri, otoritas sendiri. Dapatlah dikatakan bahwa kebangkitan komik era 90-an yang membawa semangat tanding melawan komik impor, membentuk dua arena pertandingan yaitu jalur industri dan jalur mandiri atau independen. Komunitas komik diluar sistem industri ini, berjalan seiring dalam distribusi (event ke event), mereka bukan tidak jengah dengan sistem industri dan booming komik impor, namun mereka tidak menghiraukannya. Komikus-komikus ini asyik dengan dunia komik yang mereka ciptakan sendiri, dunia komik yang akhirnya membentuk komunitas dan segmen pasar dengan sendirinya komunitas yang bergerak dari event ke event mencari perkawanan dan menjual komiknya dari tangan ke tangan. Semua komik indie merdeka pada tindakan, namun tidak semua merdeka pada gagasan. Maksudnya, kita banyak menemukan dominasi pengaruh mainstream (arus besar) komik impor pada komik-komik indie, seperti gaya artistik, idiom bahkan filosofinya, hal ini adalah sebuah kemerdekaan dalam tindakan memilih selera berdasarkan pengaruh, namun belum sampai pada tahap pemerdekaan gagasan dari pengaruh mainstream komik impor. Pemerdekaan pada gagasan, akan menunjuk pada wilayah yang sangat individualistik dan rumit. Karena hal itu merupakan proses yang sangat relatif bahkan untuk sebuah bangsa. Jika kita mencontoh Jepang, maka Jepang pun pernah mengalami masa western sty/e. Sejak 1877, karakter kartun Jepang (pada karikatur dan komik strip) secara teknis mengacu pada kartun Eropa yang diperkenalkan seorang seniman Inggris Charles Wirgman dan George Bigot dari Perancis. Yang kemudian pada tahun 1920-an Jepang beralih pada gaya Amerika yang cenderung liberal5. Hingga saat ini kita dapat melihat penemuan Jepang pada karakternya sendiri, proses yang sangat panjang akhirnya memerdekakan Jepang pada gagasan. Semerdeka mereka unt:uk mengidentifikasi karakter bangsanya dengan bermata bulat hesar, asumsi saya hal itu bukan semata-mata sebuah deformasi kartunal, namun sebuah ungkapan untuk membalik ejekan terhadap Jepang yang bermata sipit, dan tidak ada satupun yang membantah hal ini sebagai penipuan karakter. Pemerdekaan terhadap gagasan berarti melepaskan diri dari pengaruh. Sementara pengaruh adalah sebuah keniscayaan pada sebuah proses, Sebagaimana RA Kosasih berproses dengan Sri Asih sebelum membuat seri komik wayang. Begitupun dalam komik indie yang beberapa diantaranya memiliki berbagai macam pengaruh pada gaya artistiknya. Permasalahan yang utama adalah sampai dimana pengaruh tersebut menancap menjadi sebuah ketergantungan yang oleh Agus Burhan disebut determinisme patron6. Sehingga faktor pengaruh tidak diduplikasi secara mentah, menghilangkan akulturasi. Memang sebaiknya pengaruh diolah tidak hanya pada bentuk materi (visual) nya saja, namun juga mencari sesuatu dibalik penampakan visual itu, dengan memahami latar belakang filosofi nya. Dengan begitu tahap seleksi pada pengaruh akan terjadi dengan ketat dan dapat saja melahirkan sebuah bentuk baru, terpengaruh bukan berarti terbunuhnya gagasan yang pada saatnya melahirkan identitas. Jika ditelusuri, patron dalam sebagian karya komik indie adalah mainstream style Jepang dan Amerika, wajar saja karena dua genre itulah yang paling dekat dengan masyarakat kita, sehingga kita- dapat menemukan karya yang bersifat duplikasi dari kedua mainstream tersebut. Sebagian lainnya adalah ekspresi dengan tema-tema pemberontakan, Yang gerakannya terpengaruh pada perkembangan komik di Amerika7, yang secara general bersifat penolakan terhadap posisi komik sebagai produk konsumsi hiburan, dengan menjadikan komik sebagai media ungkapan yang murni8. Tinggal ditunggu saja kelanjutan dari fase proses ini. Yogyakarta, 31 Mei 2001 Catatan 1.Pola Adaptasi ini seperti ditulis Rakhmat Darmawan (Tempo:1999), dalam kasus komik2 superhero terdapat perbedaan antara adaptasi tahun 1950-an dengan tahun 1990-an. Jika tahun 50-an, Superhero impor mengalami reduksi materi (anatomi, kostum) dan setting (penokohan dan lokasi) menjadi lokal. Namun pada tahun 90-an, reduksi hanya terjadi pada setting nya saja, tidak pada materi. Sebuah pola yang terbalik. Dulu dari asinq meniadi lokal, kini dari lokal menjadi asing. 2. Hal inipun masih merupakan pengaruh dari industri Amerika, yang dimulai sejak kemunculan komik The Yellow Kids (karya Richard Outcalt) tahun 1895, (kornik ini diklaim sebagai komik yang pertama kali tercipta di Amerika), The Yellow Kids telah membentuk sebuah histeria dengan membanjirnya hiasan figur The Yellow Kids pada bungkus rokok, kancing haju, pembuka kaleng minuman, kipas dll. (Arthur Asa Berger:2000) 3. Lihat, Dari Dunia Super Hero: .Sebuah Laporan, (Gunawan Muhammad, Prisma:1977) 4. Bagi komikus sekelas Dwi Koen hal ini jelas bukan masalah besar (sawung Kampret, Mizan) begitupun bagi T. Ahmad Ismail yang kapasitasnya telah terbukti (Ali Baba, Mizan). Dimana Ismail memilki posisi tawar yang kuat dalam memunculkan identitasnya. Namun bagi komikus lain, ritme industri dijadikan sebuah proses untuk menjadi besar, seperti studio Bajing Loncat (Balon, Bandung) yang sempat menerbitkan komiknya secara indie sebelum bergabung dengan Mizan. 5. Setelah mengunjungi Amerika, seorang kartunis Jepang Ippei Okamoto menulis pada koran Jepang Asahi (1922), dengan komentar bahwa orang-orang Amerika gemar tertawa, tetapi tidak dengan cara Inggris yang penuh sopan santun, tawa mereka murni dengan segera menghapus segala keletihan, Okamoto menambahkan bahwa komik di Amerika telah menjadi hiburan yang sebanding dengan Basebal!, Film bioskop dan pemilihan presiden, hingga beberapa pengamat mengatakan bahwa komik telah menggantikan fungsi alkohol untuk para pekerja sejak pelarangan minuman keras dimulai. Sebelumnya (sekedar catatan), Wirgman dikirim ke Jepang tahun 1857 sebagai koresponden untuk Illustrated London News kemudian menerbitkan The Japan Punch pada tahun 1862. Sementara Bigot tinggal di 3epang sejak 1882 dan bekeja sebagai guru kesenian di sekolah perwira, kemudian pada tahun 1887 menerbitkan majalah Tobae. (Lihat, Manga! Manga! The World Of Japanese Comics, Schodt: 1997) 6. Lihat Tulisan M Agus Burhan, Nilai Estetik Dalam Seni Lukis Indoriesia, 3urnal seni, VI (Januari-1999). 3ika di analogikan, maka seperti halnya komik, seni lukis modern Indonesia berpatron pada barat, perkembangannya mengikuti barat, segala nilai yang berasal dari barat seolah bernilai pasti atau: fixed idea. 7. Sebutan untuk komik underground di Amerika adalah Comix, dalam sejarah komik underground di Amerika, komik underground diawali dengan mulai terbitnya MAD thn. 1955 yang diterbitkan oleh Harvey Kurtzman, MAD adalah bentuk pengembangan dari EC Comics. Istilah Comix mulai digunakan ZAP (1965), yang melahirkan tokoh kontroversi, mantan Hippie yaitu Robert Crumb. Kelahiran ZAP mengawali pemberontakan terhadap kode etik (CCA: Comics Code Authority thn:1950), dan sebagai kritik terhadap kondisi budaya di Amerika saat itu, Lihat. tulisan 3ean H Lee di - situs www.mogozuzu.com/under . lihat juga Aikon (ed. 118:2000). Pada perkembangannya komik underground di Amerika telah memasuki pasar umum dan disebut dengan istilah komik alternatif, yang penilaiannya, bukan lagi pada pemberontakan dan legalitas, namun pada tema yang membedakannya dari komik mainstream Amerika yaitu superhero, lihat artikel yang ditulis Steve Bolhafner berjudul alternative comics, http://www. geocities.com/alternative Jika MAD dan ZAP berbentuk majalah, maka komik indie di Indonesia lebih terinspirasi pada fase berikutnya, yaitu masa kernunculan RAW Comics, yang berbentuk kumpulan komik atau kompilasi, dan saat ini di Eropa nge-trend disebut small press comics yang memiliki agenda pameran rutin yaitu small press expo, lihat www.spxpo.com
|
Situs ini dikembangkan oleh divisi online Komikaze |